![]() |
Sejarah agama Hindu terbagi pada tiga bagian. Yaitu zaman Weda Kuno, zaman Brahma dan zaman Upanisyad.
1. Zaman Weda Kuno
Para ahli sejarah menyatakan bahwa pendatang baru ini adalah Indo-Eropa yang menyambut diri mereka sebagai bangsa Arya. Untuk mengetahui peradaban dan agama bangsa Arya ini dapat terlihat dari isi kitab Weda yang merupakan puji-pujian yang masyhur dan terdiri dari empat yang termasyhur, yakni Reg Weda. Yajur Weda, Sama Weda Atarwa Weda. Agama Indo- Arya seperti yang ditemukan dalam kitab Rig Weda di gambarkan tentang penjelmaan alam. Dewa-dewi agama Weda ini merupakan penjelmaan lebih kurang sebagai pengejewantahan dari daya-daya kekuatan alam. Agni dewa api, Bayu dewa angin, Surya dewa matahari, dan seterusnya. Mereka dipandang sebagai mahluk yang lebih tinggi dari manusia, dan kewajiban manusia untuk menyembah, mematuhi, dan memberi sesaji kepada mereka. Jadi terdapat banyak Tuhan dalam agama bangsa Arya. Agama bangsa Arya sekarang ini seperti tampak pada kitabnya yang berbentuk poleteisme, dan mempunyai persamaan mitologi dengan pasangannya di Eropa.
Walaupun demikian ada kira-kira seperempat dari puj-pujian dalam Rig Weda di tunjukkan kepada Indra. Dia adalah dewa langit biru, pengumpul awan, pencurah hujan, dan penyulut petir. Dia membantu para pemujanya, bangsa Arya dalam membinasakan musuh-musuhnya di waktu peperangan. Dia tidak menyukai minuman yang memabukkan yang berasal dari sari tumbuhan yang merambat di kenal sebagai somma. Secara moral lebih tinggi dari pada dewa lainnya. Kedudukannya lebih tinggi dari dewa Baruna sebagai utusan dari langit yang tinggi. “Dewa”. Max Muller, mengatakan”adalah salah satu dari ciptaan yang paling menarik menurut pemikiran Hindu, karena walaupun dapat menerima latar belakang fisik kemunculannya, tetapi ia merupakan gambaran adanya dewa yang lebih tinggi dari dewa-dewa Weda. Ia adalah satu-satunya dewa yang mengatasi seluruh dunia yang menghukum orang yang berbuat jahat dan mengampuni orang yang mohon ampun”.
Ada satu aspek dari ide kutuhanan yang cukup menarik yakni kedekatan hubungan dengan apa yang di gambarkan sebagai rta. Rta berarti “cosmic order”, pemelihara dari segala Tuhan-Tuhan. Bentuk penyembahan yang utama dalam weda adalah Yajma, yakni upacara pengorbanan kepada dewa-dewa, para pelaku upacara melingkari api pengorbanan dan sesaji yang dikumpulkan didalamnya. Sesaji itu terdiri dari mentega susu, minuman yang memabukkan, dan barang-barang lain semacam itu. Binatang utama yang dikorbankan adalah kambing, domba, sapi, semua itu bertujuan untuk menyenangkan hati para dewa serta untuk memperoleh keberuntungan dari mereka. Dalam puji-pujian yang disebutkan dalam Rig weda dapat dilihat suatu perkembangan kea rah monoteisme. Hal itu tumbuh dari Tuhan prajapati Sang pencipta. “Tetapi, menurut Dr. Radkhakrishna, “monoteisme ini belum sedemikian tajam dan langsung seperti halnya di dunia modern”. Di samping beberapa puji-pujian yang mengakui Prajapati sebagai Tuhan Yang maha kuasa dan Tuhan dari segala ciptaan, tetapi pada kenyataannya ada dewa-dewi lain yang tetap diakui keberadaannya. Sebagaimana dikatakan Max Muller, “dengan konsepsi yang menyatakan Prajapati sebagai Tuhan semua yang diciptakan dan penguasa dewa-dewa, hal itu merupakan pencAryan terhadap monoteisme.
2. Zaman Brahmana
Seiring dengan berjalannya waktu, kaum indo Arya maju melewati Punjab dan memasuki lembah Gangga dan Jamuna. Mereka berhasil mengalahkan peradaban penduduk asli serta diturunkan derajatnya menjadi budak (sudra). Selama priode ini juga berlangsung pertempuran di dalam masyarkat Indo Arya sendiri di antara para perwira (kesatria) dan ulama (Brahmana). Pada awanya para kesatria berada pada kasta teratas, namun pada masa ini justru kaum Brahmana meningkat sebagai golongan paling tinggi dan paling berkuasa. Lambat laun mereka mendapat kesenangan, dan hampir mendekati tingkat ketuhanan serta diberikan kepada mereka kehormatan sebagai kasta yang paling tinggi.
Kitab-kitab yang disucikan oleh Brahmana disusun oleh para pendeta agama, pendeta agama Brahmana sekitar abad ke 8 SM telah menjelaskan asal usul mukjizat dan daya kekuatan pengorbanan. Kitab tersebut juga memberi rincian secara rinci tentang dongeng-dongeng, baik dari manusia maupun dewa-dewa dalam mengambarkan upacara peengorbanan. Pengorbanan, seperti dikutip Profesor Hopkins,”menjadi seperti mesin giling yang bekerja untuk meramalkan pahala dimasa yang akan datang dan juga berkah saat ini”. Hal itu ahirnya dianggap suatu upacara magis dan pengaruhnya tergantung kepada penyajian yang tepat. Menurut Prof. Hiiyana yang dikutip dalam buku Perbandingan Agama bahwa “adanya perubahan yang terjadi pada jiwa pemberian koban kepada para dewa pada kurun waktu tertentu. Upacara itu lebih cenderung untuk meberikan sesuatu dengan cara keharusan kepada para dewa-dewa agama agar memberikan apa yang diinginkan dari orang yang memberikan korban. Perubahan yang terjadi pada jiwa penorbanan ini dicatat oleh banyak kalangan cendikiawan masa kini sebagai tahap masuknya bagian-bagian megis dalam Weda dan diambil sebagai tandingan perpindahan kekuatan dari dewa-dewa kepada para pendeta.” Karena itu kasta-kasta pada zaman Brahma ini memberikan warna yang mencolok terhadap strata kehidupan sosial dalam masyarakat India waktu itu. Kata “kasta” berasal dari bahasa Portugis “Caste” yang berarti pemisah, tembok atau batas sejarah’ sejarah kasta yang dituduhkan pada masyarakat Hindu belawal dari kedatangan bangsa Portugis yang melakukan pengarungan samudera ke dunia timur yang di dasari atas semangat Gold (memperoleh kekayaan) Glori (memperoleh kejajayaan) dan Gospel (penyebaran agama penginjilan).
Caste yang dalam sejarah portugis sudah berlangsung cukup lama akibat proses feodalisme. Bahkan memang feodalisme ini telah terjadi pada semua sejarah masyarakat dunia di Inggris yang ditandai dengan adanya pergolongan masyarakat secara partikel dengan membedakan namanya seperti sir, lord, duke dan lain-lain. Gelar kebangsaan seperti tengku, cut masih diterapkan secara kental di Aceh sedangkan di daerah Jawa disebut dengan raden.
Penyebab timbulnya kasta-kasta di dalam agama hindu adalah karena datangnya bangsa Arya yang datang ke India dari utara yang mengslshksn secara kultur bangsa Dravida. Mereka bukan saja mengadakan percampuran agama, tetapi juga mencampurkan adat istiadat dan kebudayaan. Tetapi karena bangsa Arya memliki kebudayaan yang lebh dominan , maka unsur kebudayaan mereka itulah yang lebih unggul (dominan) terhadap kebudayaan bangsa Dravida. Dari bangsa Arya itu pula yang melahirkan golongan pendeta, tentara, raja-raja serta golongan saudagar atau orangorang kaya. Sedangkan bangsa Dravida, terkecuali sebagaian kecil yang berhubungan perkawinan dengan bangsa Arya, umunya membentuk golongan petani miskin dan pekerja kasar, tukang-tukang serta pesuruh dari ketiga golongan pertama. Dengan demikian terbentuklah empat macam kasta dalam kehidupan bangsa India yang diperkuat oleh ajaran agama Hindu, yaitu
a. Kasta Brahmana
Kelompok ini adalah mereka yang memiliki kecerdasan yang tinggi, mengerti tentang kitab suci, ketuhanan dan ilmu pengetahuan. Para brahmana memiliki kewajiban sebagai penasehat pada kaum kesatria dalam melaksanakan roda pemerintahan. Rsi, pedanda, pendeta, pastur, dan pemuka-pemika agama lainnya, dokter, ilmuwan, guru dan profesi yang sejenis dapat digolongkan ke dalam kasta Brahmana.
b. Kasta Ksatria
Yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang memiliki sikap pemberani, jujur, tangkas dan memiliki kemampuan managerial dalam dunia pemerintahan. Mereka yang masuk ke dalam golongan kasta Ksatria ini antara lain: raja/pemimpin Negara, aparatur Negara, prajurit/angkatan bersenjata.
c. Kasta Waisya
Kelompok Waisya adalah adalah kelompok yang mana mereka memiliki keahlian berbisnis, bertani dan berbagai profesi lainya yang bergerak dalam bidang ekonomi. Mereka yang malam dalam kasta ini diantaranya adala pedagang, nelayan, pengusaha dan sejenisnya.
d. Kasta Sudra
Adalah mereka yang memiliki kecerdasan terbatas, sehingga mereka lebih cenderung bekerja dengan kekuatan fisik, bukan otak. Contoh profesi sudra adalah pembantu rumah tangga, buruh angkat barang, tukang becak dan sejenisnya.
Bagi bangsa Dravida yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, umumya terdesak ke daerah selatan dan tidak di golongkan ke dalam kasta sudra, tetapi dianggap sebagai bangsa yang tak berkasta. Mereka menyebutnya dengan sebutan bangsa pArya yaitu orang-orang yang tidak dalam perhitungan hidup sehari-hari.
Penggolongan ini akan tetap hidup di masyarakat manapun, karena watak, karakter, kecerdasan yang menentukan profesi seseorang tidaklah sama. Harus ada bos dan harus ada pembantu. Harus ada raja/ pemimpin dan harus ada rakyat yang dipimpin. Keempat golongan masyarakat ini harus bekerjasama untuk menciptakan masyarakat dunia yang harmonis dan bahagia. Jika kaum pArya mogok kerja, maka roda perekonomian tidak akan jalan dan terjadi krisis ekonomi. Jika kaum brahmana tidak menjalankan tugasnya masyarakat mungkin akan kacau karena moral, agama dan pengetahuan masyarakat menjadi kurang, jika para administrator Negara tidak jalan, maka Negara bersangkutan menjadi lemah dan mungkin akan terjadi chaos dalam masyarakat. Jika para sudra/kaum buruh mogok kerja maka perekonomian dan kehidupan 3 golongan yang lain jiga menjadi timpang.
3. Zaman Upanisyad
Zaman Upanisyad adalah zaman dimana ajaaranajaran Hindu telah berpengaruh pada ajaran filsafat.karena itu wajar jika pada zaman ini banyak kritikan-kritikan terhadap ajaran-ajaran yang lebih memprioritaskan tentang ajaran Brahma, apalagi tentang upacara-upacara pengorbanan. Karena itu disebutan bahwa pada zaman Upanisyad menandakan suatu reaksi terhadap kaum brahmana yang telah menanamkan suatu system upacara agama yang terlalu sulit dicerna akal.
Sebagaimana yang ditulis dalam Upanisyad sebagai berikut:
“Terbatas dan sementaralah hasil dari upacara-upacara agama orang-orang sesat dan menganggap itu sebagai tujuan tertinggi, mreka hanya berada dalam ritual lahir dan mati saja.kehidupan mereka pada jurag kebodohan namun mereka merasa bangga dan terus berputar-putar, ibarat orang buta menuntut orang buta lagi. Hidup dalam jurang kebodohan itu kiranya mendapat berkah. Mereka terikat kepada upacara korban dan tidak mngenal tuhan”
Dogma yang penting dalam keprcayaan brahmana adalah keyakinan tentang keabdian dan asal-usul kutuhanan dari kitab Weda. Penjelasan utama dalam Upanishad adalah tentang ekksistensi tuhan satu-satunya kebenaran yaitu Brahmana. Sebagaimana dalam Upanisya dijelaskan:
“Dia yang abadi di antara semua yang fana, yang menjadi kesadaran suci umat manusia, SATU-SATU zat yang menjawab doa dari semua orang…dia tidak diciptakan tetapi maha pencipta: mengetahui semuanya. Dialah menjadi sumber kesadaran suci, pencipta waktu, Maha kuasa atas segala hal. Dia tuhan dari jiwa dan ala mini…sumber cahaya dan abadi dalam kemukyaan. Hadir di mana-mana dan mencintai mahlukNya Dia penguasa terahir alam dunia ini dan tidak satupun dapat terjadi tanpa izinNya… saya pergi keharibaan Tuhan yang SATU dalam keabadian, memancarkan jiwa yang indah dan sempurna, di dalamNya kita akan mendapat kedamaian”)
Pada zaman Upanisyad ini ajaran-ajaran Agama Hindu telah diwarnai oleh ajaran-ajaran filsafat, karena itu kritikan kritikan terhadap zaman Brahma banyak dilakukan, dengan demikian hal yang terpenting dalam masa ini adalah adanya perbaikan-perbaikan lebih baik dan sempurna dari zaman-zaman sebelumnya.
Sumber: Khotimah. Agama Hindu dan Ajaran-ajarannya. Pekanbaru-Riau: Daulat Riau
